deSalic Community

Di kota ini aku tinggal di sebuah asrama mahasiswa. Asrama ini tidak menyiapkan makanan bagi para mahasiswa yang menempatinya. Jatah makan hanya disediakan di kantin kampus dengan potongan 40% bagi pemegang kartu mahasiswa. Namun, makanan di kantin kampus tidak selalu membuat aku berselera. Karena itu, aku lebih suka memasak sendiri. Biasanya, dua kali seminggu aku berbelanja ke sebuah supermercato. Barang-barang yang aku beli tidak terlalu banyak, misalnya beras, sayur-sayuran, susu, kue-kue ringan, buah-buahan, dan perlengkapan mandi. Mencari nasi di kota ini sangat sulit. Walaupun di restoran cina (restorante cinese) ada nasi goreng, tapi pengolahannya menggunakan minyak babi. Karena dalam agamaku dilarang makan babi, jadi aku gak mungkin menikmati nasi goreng itu. Nah, karena ingin memakan makanan yang halal, aku memutuskan masak sendiri dengan membeli bahan makanan di supermercato.

 

Nah, suatu hari aku membeli bahan makanan di supermercato di tengah kota. Seperti biasa, sebelum aku membayar ke kasir, aku selalu menghitung berapa jumlah belanjaanku. Dengan begitu, aku bisa menyiapkan uangnya dan tidak khawatir uangnya kurang. Menurut perhitunganku waktu itu –sesuai label harga yang tertera–  aku harus merogoh kocek sebesar 50 Euro. Tetapi, setelah dihitung di kasir, aku harus membayar sebesar 58 Euro. Walaupun bingung, aku segera membayar di kasir. Aku heran, padahal biasanya perhitunganku tidak pernah meleset. Setelah keluar dari supermercato, aku segera menghitung struk belanja. Kupikir barangkali kasirnya yang salah. Ternyata tidak. Kasir itu menghitung dengan benar sesuai struk belanjaanku. Karena penasaran, aku kembali ke supermercato dan mencocokkan harga yang tertera di struk dengan barang yang aku beli. Nah, ternyata harga di struk tidak sama dengan label harga barang yang diletakkan di dalam supermercato!!!

 

Aku pun mendatangi kasir dan mengajukan komplain. Kasir itu tidak bisa menyelesaikan komplainku. Kemudian dia memanggil manajer supermercato. Setelah aku menjelaskan duduk permasalahannya, sang manajer mengajak aku melihat langsung ke tempat barang yang aku beli. Akhirnya manajer itu mengakui bahwa terjadi kesalahan dalam meletakkan label harga. Harga yang tertera adalah harga lama yang belum diganti. Kemudian dia memanggil karyawannya dan memarahinya di depanku. Dia kelihatan sangat kesal karena pegawai tersebut lupa mengganti label harga dengan harga baru. Berulangkali manajer itu meminta maaf kepadaku dan mengembalikan uang kembalian yang aku tuntut. Jumlahnya sih tidak banyak, hanya 8 Euro. Tapi jumlah segitu lumayan buat beli pizza. Hehehe… Gara-gara kejadian itu, setiap kali aku berbelanja di supermercato itu, para karyawan dan bahkan manajernya selalu menyapaku. Hihihi…

 

Setahun kemudian aku pulang ke Indonesia. Seorang temanku mengajakku berbelanja di sebuah hypermarket di Jakarta. Di sana, dia mengalami kejadian yang sama seperti yang aku alami di supermercato setahun lalu itu. Anehnya, ketika dia mengajukan komplain, manajer hypermarket hanya mengatakan bahwa harganya memang belum diganti. Yang lebih mengherankan, sama sekali tidak ada permintaan maaf atau kompensasi apapun. Dia terkesan tidak mau ambil pusing dengan masalah tersebut. Padahal, dalam berbisnis di bidang seperti itu, kepuasan konsumen adalah yang utama.

 

Pengalaman itu membuka mataku bahwa perbedaan kualitas sumber daya manusia antara Barat dan Timur memang begitu mencolok. Budaya Timur yang selalu didengung-dengungkan sebagai budaya malu dan sopan, ternyata tidak seperti yang dikatakan. Contohnya manajer hypermarket di Jakarta itu yang tidak merasa malu dan bahkan tidak sopan, tidak mengucapkan “maaf” atas kesalahannya. Jiwa sportivitas dan rasa tanggung jawab bangsa ini rupanya dapat dengan mudah aku ukur nilainya dari kejadian di supermarket… Bagaimana menurut Anda?

 

Cerita nyata ini baru terjadi beberapa hari yang lalu di lingkungan rumah kami. Ceritanya begini:

Suatu sore, Pak RT mengajak para warganya untuk datang menjenguk salah seorang tetangga kami yang sakit, sebut saja namanya Pak Bejo.

“Buruan! Dia udah kritis!” kata Pak RT dengan muka tegang.

Sebagai warga yang sudah mengenal betul karakter Pak RT, kami tidak segera mempercayai omongannya. Maklum, Pak RT bercandanya sering kelewatan. Banyak omongannya yang tidak sesuai fakta alias direkayasa.

“Siapa yang kritis, Pak RT?” tanya Pak Burhan, tetanggaku.

“Pak Bejo! Tadi saya sudah ke rumahnya!”

“Memang dia kritis kenapa?” tanya Pak Burhan lagi dengan logat Ambon yang kental.

“Dia dicakarin kucing!”

“Pak RT bercanda aja! Masa dicakarin kucing bisa kritis… Bercanda aja nih, Pak RT!” ujar Pak Fandi.

Sebenarnya warga sudah malas mendengar cerita Pak RT. Kami menduga dia hanya membual seperti biasanya. Tetapi, tiba-tiba Pak Romanus datang mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan Pak RT. Akhirnya, berangkatlah kami bersama-sama mengunjungi Pak Bejo.

Singkat cerita, memang betul Pak Bejo luka parah akibat cakaran dan gigitan kucing. Luka-luka itu didapatnya saat dia mengangkat seekor kucing liar yang sedang berkelahi dengan kucing kesayangannya. Karena kucingnya kalah, Pak Bejo marah dan mengangkat paksa kucing liar itu sambil berniat membantingnya. Tapi sial, kucing itu berbalik dan langsung menghujani wajah dan tubuhnya dengan cakaran. Alhasil, luka robek yang cukup dalam diderita Pak Bejo di kedua tangannya. Bahkan sekujur mukanya penuh dengan cakaran kucing.

Pak Bejo menolak anjuran keluarganya untuk berobat ke dokter. Dia hanya mengobati lukanya dengan betadine dan perban. Keadaannya semakin memburuk keesokan harinya. Sekujur tubuhnya panas tinggi. Badannya menggigil. Akhirnya, dengan rasa malu dan terpaksa, Pak Bejo tetanggaku itu berobat ke dokter di rumah sakit terdekat. Hingga cerita ini kutulis, kisah Pak Bejo dan kucing liar masih menjadi pembicaraan hangat warga.

Warga yang mengetahui kejadian itu bingung harus tertawa atau berbelasungkawa. Walaupun kejadian ini merupakan musibah, tapi unsur komedinya lumayan juga. Kasian deh lo! Jahat sih sama binatang… Hehehehee…

Tag:

Kopdar. Sebuah istilah yang sudah tidak asing lagi bagi para chater mania. Dalam dunia maya, program chating yang sedemikian banyak terasa kurang klop jika tidak disertai acara kopdar alias kopi darat. Dalam acara ini, sesama peserta chating yang biasa bercengkerama via chat akan bisa memandang lawan bicaranya secara langsung. Biasanya sih, chater cowok lebih banyak teman ceweknya, begitu pula sebaliknya. Sudah bukan rahasia umum, mayoritas penggemar chating akan lebih merasa nyaman berinteraksi dengan lawan jenis di dunia maya. Alasannya banyak; ada yang cari pacar, cari selingkuhan, cari istri/suami, atau sekadar penyaluran bakat playboy yang terpendam. hihihi…
Selain berinteraksi dengan lawan jenis dalam dunia maya, banyak juga yang merasa enjoy berada dalam satu komunitas atau group/room (baca: rum) tertentu. Bahkan, selain diadakan kopdar dengan sesama room, mereka juga membuat kaos atau sweater bertema chating sesuai rum-nya. Tapi, kalau sudah saling cocok dan suka, bisanya banyak pasangan yang lebih suka “private” daripada “nge-rum”. Ujung-ujungnya sih pasti ketemuan, tukeran no.hp, nanya alamat rumah, sekolah, dsb, dsb.
Tidak ada yang salah dari acara ber-chating sampai akhirnya ber-kopdar. Semuanya ada manfaatnya, khususnya menambah teman dan menjalin persahabatan. Tidak sedikit juga para penggemar chating “jadian” bahkan sampai ada yang menikah alias merit. Walaupun demikian, bagi para penggemar chating usia belia (siswa SMP) perlu lebih berhati-hati dengan para maniak seks yang selalu mencari korban lewat program chating. Hati-hati!!!!
Banyak trik dan tip untuk mendapatkan teman chating yang baik. Setidaknya, tidak sampai terjebak. Saya (mangtat) selama ini sudah mengikuti beberapa program chating. misalnya di YM, Nimbuzz, bing (blinko), Mig33, Mocospace, Morange, qeep, dan 12Frenz. Masih banyak lagi sebenarnya program chat yang saya ikuti, tapi kalau ditulis semua bisa 20 halaman nih! Hwahahaaa….
Kalu ada yang mau kopdar, kasihtau saya ya? Kalau lagi ada duit, saya mudah2an bisa datang… hihihi
Selamat Kopdar!!!

Tag:

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


  • Tak ada
  • Bayu: kalo ada info kerjaan bagi-bagi gw ye ....
  • Bayu: gw jg kadang sebel kalo ngeliat kucing yang lagi berantem. pengen rasanya gw tendang tu kucing biar ngga berisik. tapi setelah baca cerita ini, gw ngg
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori